Weirdism
Previous Quote

“Worst thing in life comes free to us.”

I heard it for the first time from Pak Mahludin, in Bahasa Indonesia. It is also a lyric on Ed Sheeran’s song “The A Team”.

I don’t know how they could have the same point of view, but I’m pretty sure they haven’t meet or know each other. Neither Pak Mahludin ever listen to The A Team nor Ed Sheeran is Pak Mahludin’s student.

Worst thing in life comes free to us.
Ed Sheeran and Pak Mahludin
W = F.d

W = F.d

dengan; W = Work (Usaha). F = Force (Gaya), dan d = distance (jarak)

Persamaan tersebut merupakan persamaan yang lazim dalam dunia fisika. Misalkan kita memindahkan sebuah beban dengan gaya (force) tertentu sejauh jarak tertentu, maka usaha yang kita lakukan dapat kita tentukan melalui persamaan tersebut. Terlalu klasik bagi maniak fisika, tapi mungkin rumit bagi beberapa orang.

Tapi tunggu, hal diatas bukanlah sesuatu yang tidak dapat kita terapkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Bukan untuk menerapaknannya ke dalam situasi yang betul-betul riil, tapi kita terapkan dalam cara menjalani kehidupan.

Dari persamaan diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa semakin besar perpindahan atau jarak tempuh benda, maka kita memerlukan usaha yang besar untuk melakukannya. Singkatnya, semakin besar jarak makan semakin besar usaha yang dibutuhkan atau jarak berbanding lurus dengan usaha.

Hal ini analog dengan kehidupan kita. Bayangkan kita adalah orang yang memberikan gaya (force) terhadap beban (hidup) kita, kita pasti memerlukan usaha tertentu untuk memindahkan hidup kita, pastinya ke tempat yang lebih baik. Tentu setiap orang menginginkan untuk bergerak jauh, tapi mereka lupa akan persamaan usaha di atas.

Mari kita analogikan ke kondisi di kehidupan agar terlihat lebih riil. 2 murid dengan kondisi berbeda, murid A yang berada pada peringkat 2 dan murid B pada peringkat 5, memiliki tujuan yang sama yaitu meraih peringkat 1. Siapakah yang harus berusaha lebih keras? Pastilah murid B. Murid B berada pada jarak yang lebih jauh dari tujuan, maka benarlah bahwa ia harus berusaha lebih keras.

Sekarang, kita harus mulai menyadarkan diri kita akan persamaan usaha tersebut dan mulai mematok tujuan kita. Mari kita memulai merencanakan sebuah perpindahan dan sadar seberapa jauh perpindahan tersebut agar kita sadar bagaimana usaha yang harus dilakukan.

A second will be longer than a second, when you are counting for the next second.
Not-Well Known Person
Jika untuk mendapat 50 ribu sudah setengah mati, maka untuk mendapatkan 1 juta kita harus mati terlebih dahulu.
Not-Well Known Person
If Only You Were Me

If Only You Were Me atau dalam aksen Palu dikatakan sebagai “Coba Ko Jadi Saya.” (re: Ko = Kau).

“Coba Ko Jadi Saya,” kata seorang teman (@gansarbudi) di jejaring sosialnya. Seketika saya merasa risih dan prihatin kepadanya. Betapa membatin beban hidupnya sehingga dia mampu berkata seperti itu. Tapi sehari-hari dia terlihat sangat tidak terbebani.

Kemudian saya terlintas untuk membalasnya dengan “alay kau budi,” dengan harap dia meluapkan emosinya kembali. Kemudian dia membalasnya dengan “kenapa kau eh,” sebuah balasan yang masih terkesan marah.

Saya coba mengungkap responnya kembali dengan perkataan senada “ba sampah, coba ko jadi saya,” dan selanjutnya tak ada balasan dari dia. Mungkin dia tidak peduli.

Frase “Coba Ko Jadi Saya” adalah luapan ego terhalus yang pernah ada (Jika dikatakan dengan nada lembut). Saat berkata demikian terlintas di benak kita bahwa orang tidak mengerti apa yang sedang kita rasakan, derita kita. Tapi, apakah kita juga mengerti derita mereka?

“Coba Saya Jadi Dorang/Dia?”

Kadang penting bagi kita menyimbolkan ekpresi wajah dengan emoticon dalam sebuah tulisan. Untuk sekedar menginfokan kondisi kita.
Saya adalah potongan kertas kecil dari lembar hidup yang utuh.
Not-Well Known Person
Kau memilih hujan. Alasannya, Kau mencintai hujan dan hujan mengugurkan dirinya demi langit yang kau cintai. :)
Not-Well Known Person. Inspired by @hurufkecil
Kepergianmu akan menjadi bingkai di pertemuan selanjutnya.
Not-Well Known Person